Seni Komunikasi Hilang Ditelan Pandemi

Penulis: Faqih Bayhaq J.

Seni Komunikasi Hilang Ditelan Pandemi

Makna Komunikasi dan Bentuk Adaptasinya

Saat ini, kita disibukkan dengan aktivitas di dalam rumah. Di awal masuknya covid-19 ke Indonesia bulan Maret lalu, pemerintah sibuk memberikan himbauan pada masyarakat. Banyak poster yang berseliweran dengan kalimat “tetap jaga jarak, minimal satu meter” hingga salah satu kata yang paling populer adalah “social distancing” untuk mencegah penularan antara orang satu ke orang yang lain. Media juga sibuk mengangkat berita jumlah orang yang terinfeksi, sembuh, dan meninggal. Salah-salah menyikapi, berita yang awalnya disuguhkan dan dimanfaatkan sebagai sumber informasi malah menjadi ironi bagi masyarakat sendiri. Banyak yang merasa parno untuk melakukan interaksi dan komunikasi langsung. Akhirnya, banyak strategi dipikirkan tokoh masyarakat dan para ahli. Kata “social distancing” berubah menjadi “physical distancing” di mana kita hanya menjaga jarak fisik bukan perasaan dan nurani. Perubahan kata itu cukup efektif dalam memberikan pemahaman baru yang positif pada masyarakat, bahwa menjaga jarak untuk menekan penyebaran virus bukan untuk menutup sikap dan pikiran kita kepada orang lain.

Selain itu, dampak pandemi dan pembatasan interaksi fisik kerap menjadi keluhan. Pasalnya, orang-orang haus bertemu dengan teman maupun sanak saudara. Berinteraksi dengan teman sebaya, sekadar mengeluhkan dosen, tugas-tugas, dan teman di luar lingkupnya. Para musisi yang manggung di cafe-cafe, berusaha menghibur lewat lagu-lagu yang mereka alunkan, mati. Para pedagang kaki lima yang berjejer di pasar-pasar malam, keindahan berinteraksi dengan pembeli di tengah lampu-lampu temaram, pun mati. Para tukang cukur yang mengobrol dengan pelanggannya, padahal hanya mengulang-ulang percakapan bulan lalu, atau sekadar bertanya, “mau dipotong kayak gimana, A?” dan dijawab, “potong rapih saja, Pak” karena tahu apa pun potongan yang diminta hasilnya itu-itu lagi. Meski begitu, ada rasa kangen untuk mengulang kebiasaan yang kini tidak ada lagi.

Dari yang saya amati sejauh ini, saya jadi bertanya-tanya. Sebenarnya, apa itu komunikasi? Apakah ketika kita bisa saling berbicara secara lisan maupun tulisan? Atau ternyata, makna komunikasi lebih luas dari itu? Apakah berbicara dengan Tuhan juga salah satu bentuk dari komunikasi? Tapi, bagaimana kita tahu kita sedang berkomunikasi? Apakah bahasa non verbal juga merupakan bentuk lain dari komunikasi? Dan apakah hanya manusia yang berkomunikasi? Bagaimana dengan kucing yang menggeram atau anjing yang menggonggong? Bukankah mereka sedang berkomunikasi dengan bahasanya sendiri? Ada banyak bahasa di dunia, kenapa bisa begitu? Apakah bagi manusia, bahasa dianggap juga sebagai penemuan dan hasil karya? Kalau begitu, apakah komunikasi bisa juga dianggap sebagai seni? Kapan komunikasi bisa dianggap sebagai seni? Apakah ketika kita bisa memanipulasi kata dan perilaku? Atau bagaimana kita berpikir juga merupakan bagian dari seni berkomunikasi? Jika makna komunikasi seluas itu, lantas apa yang membatasinya? Seperti apa komunikasi itu seharusnya? Lebih jauh, bagaimana peran komunikasi dan bentuk adaptasi komunikasi langsung di masa-masa sulit pandemi saat ini?

Konteks Komunikasi

Komunikasi bisa diartikan dalam makna luas maupun sempit. Dalam artian sempit komunikasi hanya dianggap sebagai sebuah percakapan antara pembicara dan lawan bicara. Tentunya hal itu membuat makna komunikasi tidak memiliki fleksibilitas dan keindahan, makna komunikasi jadi terkesan kaku dan monoton. Komunikasi juga jadi tidak bisa dikatakan sebagai seni. Bahkan komunikasi bisa dikatakan mati bila kita tidak bertemu dan bertegur sapa.

Dalam artian luas komunikasi yang dimaknai sebagai proses yang bersifat khas-umum, sempit-luas menurut Smith adalah sebuah proses dan rangkaian yang sederhana. Komunikasi dipenuhi oleh bermacam unsur-sinyal, arti, dan sandi tidak peduli sesederhana apa pun sebuah pesan itu. Komunikasi sangat beraneka ragam dalam proses dan rangkaiannya. Jadi komunikasi bisa didefinisikan sangat luas.

Perubahan Seni Berkomunikasi di Era Pandemi

Dahulu, orang yang berada sangat jauh membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat saling mengirimkan pesan. Pesan yang disampaikan pun hanya terbatas dalam bentuk tulisan. Akibatnya sulit bagi seseorang untuk menggambarkan ekspresi dan emosinya. Setelah zaman mulai berkembang, manusia menciptakan alat yang dapat mengirimkan pesan suara. Tentunya hal itu membuat hambatan komunikasi menjadi sedikit berkurang. Saat ini perangkat cerdas dan internet bukan lagi benda asing, kita bisa berselancar di dunia maya dengan bebas, berinteraksi dan berkomunikasi tidak hanya dengan satu negara tapi antar negara, tidak hanya lewat suara tapi mampu bertatap muka. Kecanggihan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan semakin berkurangnya hambatan-hambatan dalam berkomunikasi.

Seni berkomunikasi tidak lantas hilang ditelan pandemi, seperti judul artikel ini. Seni berkomunikasi saat ini hanya berubah dan beradaptasi. Walaupun begitu, kita harus tetap dinamis mengikuti perkembangan zaman. Seperti konteks komunikasi di bidang pendidikan, pengajar tidak lagi disibukkan menjelaskan di depan kelas, waspada menatap satu persatu muridnya kalau-kalau ada yang tertidur saat materi dimulai, tapi bagaimana menyajikan visual yang menarik agar peserta didik tidak mematikan camera dan microfon lalu tertidur lelap di kasurnya yang nyaman. Hubungan penjual dan pembeli juga tidak lagi disibukkan dengan kalimat yang menggoda hingga menggugah rasa penasaran, tapi bagaimana visual yang disajikan terlihat apik dan sentimental. Seni komunikasi yang lama memang kian berganti. Tiap masa memiliki momentumnya sendiri.

Komentar

Tulisan Populer

Berpikir Negatif itu Perlu?

Apa Inti "Menjadi?"

Aku dan Engkau