Agama yang Mana? Tuhan yang Mana?

Penulis: Faqih Bayhaq J.

Agama yang Mana? Tuhan yang Mana?

Saya akan membahas mengenai konsep Agama dan Ketuhanan. Esai ini ditulis berdasarkan keresahan saya mengenai kebenaran beragama. Ada begitu banyak agama-agama di dunia ini tapi, mana yang benar? Agama-agama di dunia memiliki konsepsinya sendiri berdasarkan Tuhan, kitab, serta budayanya. Tapi, sebenarnya agama itu apa? Agama adalah ajaran yang mengatur segala tingkah laku manusia, yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah melalui kitab dan keyakinan manusia kepada Tuhan. Bukankah begitu? Tapi, Tuhan siapa? Setiap agama memiliki Tuhan serta kitab berbeda yang mengatur tindakan manusia. Tuhan dalam agama Islam adalah Allah. Agama Kristen memiliki konsepsinya sendiri pula. Bagi agama Kristen, Tuhan adalah satu dan dibagi berdasarkan tiga pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh. Bagi Islam Tuhan hanya Allah. Dalam Yahudi di sebut YHVH (dibaca Yahweh).

Namun, kenapa di dunia ini memiliki banyak agama dengan konsepsi yang berbeda-beda? Ada banyak sekali agama di dunia. Kristen, Islam, Sekuler, Hindu, Budha, Agama Tionghoa, Agama Etnis atau aliran kepercayaan, Sikhisme, Spiritisme, Yahudi, Yudaisme, Shinto, Paganisme dan Neo-Paganisme, dan masih banyak lagi. Bahkan agama etnis pun dibagi berdasarkan letak geografis di seluruh belahan bumi. Lalu, pertanyaannya, siapa Tuhan yang sebenarnya yang mengatur jagat raya? Apakah Tuhan berinteraksi antar sesama-Nya? Atau Tuhan memiliki hubungan kausalitas-Nya sendiri sebagai Yang Tunggal di antara sekian banyak agama?

Di antara semua agama pula, mana sesungguhnya yang “benar”? Atau apakah semuanya benar atau semuanya salah? Apakah yang memiliki utusan seperti di Islam yang disebut nabi dan rasul yang menerima wahyu dari Tuhan dan membagikan pada masing-masing umatnya? Atau yang duduk diam bersemadi menjari jati diri menunggu kebenaran menghampirinya? Sedangkan tidak ada waktu bagi kita untuk mencicipi semua agama di dunia untuk mengetahui mana agama yang benar dan yang salah.

Selama ini agama hanya formalitas dan diturunkan berdasarkan keturunan. Kita dipaksa untuk mengikuti agama yang dianut keluarga atau bahkan ayah ibu kita. Bagaimana caranya kita percaya? Melalui dogma dan proses doktrinisasi? Di Indonesia sendiri bahkan ada yang disebut Kristenisasi dan Islamisasi. Apakah itu yang sebenarnya diajarkan oleh agama? Merekrut sebanyak-banyaknya manusia untuk menganut ajaran kolektif? Untuk apa? Berbondong-bondong masuk ke surga? Di mana jaminannya? Karena setiap agama menjanjikan hal yang sama. Apa esensi dasar menjadi bertuhan? Kepada siapa kita harusnya bertuhan?

Sebagian orang memperoleh keyakinan berdasarkan perjalanan spiritual dan proses pencarian individual di mana hal tersebut memberikan pengalaman batiniah serta di luar nalar manusia. Tapi, bagaimana orang yang tidak merasakan pengalaman tersebut? Apa yang harus dilakukan? Apakah menjadi agnostik dan ateis merupakan pilihan yang tepat? Apakah melakukannya hanya merupakan sebuah pelarian belaka? Atau itu merupakan langkah awal sebelum kita mendapatkan keyakinan?

Memilih suatu agama dan keyakinan tertentu, bahkan memilih untuk bertuhan atau tidak merupakan suatu proses individu memperoleh keyakinannya. Memperoleh suatu agama dari keturunan merupakan sebuah anugerah, menjadi tidak bertuhan bukanlah pula musibah. Semua adalah proses untuk mencari kebenaran dan ketenangan. Pertanyaan mendasar yang menjadi alasan kita harus bertuhan adalah “kenapa,” “ke mana,” dan “bagaimana.” Kenapa aku terlahir dan ke mana aku akan pergi setelah mati menjadi pertanyaan eksistensial seluruh umat manusia. Dan bagaimana adalah proses individu mencari pengalaman batiniahnya.

Namun, satu jawaban dari semua pertanyaan adalah “semua hal hanya merupakan ikatan bahasa yang simbolik.” Di mana pemikiran kita hidup terkungkung dalam keterbatasan yang mempolarisasi semua hal dalam konteks yang sempit. Kita harus menghilangkan konteks parsial dan melihatnya secara simultan. Artinya, ketika kita melepaskan keterikatan itu dan berpikir bebas, kita akan melihatnya secara utuh.

Kita berpikir bahwa kita tidak hidup dan tidak pula mati. Kita beragama dan kita pula tidak. Tidak ada Islam, tidak ada Kristen, tidak ada Hindu, tidak ada Budha, melainkan Menunggal. Tidak ada Allah, tidak ada Yesus, tidak ada Budha atau Gautama, tidak ada Brahma, Wisnu, dan Siwa, melainkan Yang Tunggal. Namun, kita tetap bertuhan. Tuhan bukan hanya definisi konseptual melainkan pengalaman spiritual pada keimanan. Dengan kata lain, Tuhan adalah Tuhan. 

Komentar

Tulisan Populer

Berpikir Negatif itu Perlu?

Apa Inti "Menjadi?"

Aku dan Engkau