Berpikir Negatif itu Perlu?

Penulis: Faqih Bayhaq J.

Berpikir Negatif itu Perlu?

Apa yang kalian pikirkan tentang berpikir negatif? Apakah berpikir negatif itu membuat kita memandang segalanya negatif? Apakah semuanya akan berjalan sesuai apa yang kita pikirkan? Apakah harusnya kita menyemangati diri kita terus-menerus? Apakah kata-kata semangat membuat kita menghilangkan semua perasaan negatif, atau malah tertekan dengan keadaan yang bertolak belakang dengan perasaan kita sebenarnya? Kita akan bahas itu.

Dampak Penolakan Emosi

Banyak orang beranggapan bahwa berpikir negatif tidak diperlukan, orang-orang akan cenderung mengatakan, "hah, bukannya itu namanya pesimis?", "lah, belum mulai sudah bilang bakal kalah", "positif aja dulu", "harapan kayak gitu bisa jadi doa loh", "emang kamu nggak mau berhasil, gitu?".

Namun, tanpa disadari kata-kata tersebut bisa saja menyinggung seseorang karena kurang merasa berempati terhadap perasaannya. Pola berpikir seperti itu bukannya salah, tapi ungkapan semacam itu bisa menjadi tekanan tersendiri bagi sebagian orang. Itu dikarenakan mereka merasa harus mencapai ekspektasi yang diharapkan dan mengalami situasi penolakan emosi.

Sebaliknya, ketika kita berpikir negatif dan merespons emosi negatif dengan tepat, kita akan mengalami situasi penerimaan emosi. Itu akan membuat perasaan kita menjadi jauh lebih tenang. Berpikir negatif itu perlu selama tidak berlebihan. Berpikir negatif digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan terhadap capaian. Level kecemasan akan meningkat jika kita menolaknya, tapi akan berkurang ketika kita menerimanya. Loh, kok bisa? Karena ketika kita berusaha melawan pikiran negatif dengan pernyataan positif, fokus kita bukan pada solusi dan sesuatu yang harusnya kita kerjakan namun penghindaran perasaan cemas yang membuat tekanan menjadi menumpuk.

Mengelola Emosi dengan Berpikir Negatif

Ketika kita cemas dan berpikir "aku sudah latihan keras, tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku sudah menguasainya dari jauh-jauh hari, aku pasti bisa meraih nilai sempurna." dan pada kenyataannya hal tersebut tidak sesuai ekspektasi, kita akan sangat merasa kecewa dengan keadaan, dengan diri sendiri, dan cenderung menyalahkan. Itu bukan sesuatu yang sehat bagi jiwa kita.

Bandingkan jika kita berpikir "aku sudah latihan keras, aku sudah menyiapkannya dari jauh hari. Namun pasti ada kemungkinan di mana aku akan gagal dan mencobanya lagi." Ketika kita gagal tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kita telah menduga hal itu sebelumnya. "Penerimaan", itu intinya. Dan ketika kita berhasil dan melampaui ekspektasi, bukankah hal tersebut bisa lebih membahagiakan dari yang sebenarnya kita pikirkan?

Gracia Monika, psikolog klinis Personal Growth menyatakan bahwa penerimaan emosi negatif membatu seseorang menangani dan mengurangi intensitas emosi tersebut. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah mengubah anggapan buruk terhadap emosi negatif, bahwa sesungguhnya merasakannya adalah suatu hal yang wajar. Tidak seharusnya kita melakukan penolakan terhadap perasaan tersebut.

Mengelola Emosi ala Kaum Stoik

Stoisisme/stoikisme merupakan pandangan kaum stoik (stoa) terhadap cara kita bertahan, mengatasi, dan menganalisis permasalahan, serta mengelola penderitaan. Stoisisme bukan aliran filsafat yang spekulatif dan sistematik, tapi lebih menekankan pada pandangan kehidupan mengenai emosi manusia. Beberapa prinsip dasar dari paham ini adalah dikotomi kendali dan “perspektif” pada suatu kejadian. Kaum stoik menganggap pola pikir seperti itu sebagai jalan mencapai kemerdekaan pikiran dan kebahagiaan.

Prinsip dikotomi kendali menganggap bahwa ada dua hal mengenai kehendak, yaitu ada sesuatu yang dapat kita kendalikan dan ada sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan. Sesuatu di dalam kendali kita meliputi pikiran, nalar, pertimbangan, perkataan, dan tindakan yang ada pada diri kita sendiri.

Sedangkan, sesuatu di luar kendali kita adalah apa saja yang tidak kita miliki seperti orang lain dan lingkungan. Kaum stoik menganggap bahwa perasaan takut, marah, kecewa adalah karena kita menggantungkan kebahagiaan pada apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Kaum stoik melihat perasaan positif dan negatif yang muncul bergantung pada perspektif yang kita miliki terhadap kejadian yang menimpa kita. Contohnya ketika ada hal buruk yang tidak pernah diduga sebelumnya, kita memilih apakah akan merasa kesal dan marah terhadap keadaan karena menganggap itu tidak seharusnya kita terima atau menerima dan berusaha melakukan yang kita bisa selanjutnya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Dari tulisan di atas, dapat kita ambil simpulan bahwa “penerimaan” adalah kunci dalam mengelola emosi. Semua perasaan negatif yang muncul, seperti cemas, marah, takut, kecewa, atau kesal bukan berarti harus dilawan dengan ungkapan positif. Terkadang kita perlu mencoba mengelola perasaan negatif tersebut dengan ungkapan negatif agar bisa menerima diri sendiri dan melangkah lebih jauh lagi.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Inti "Menjadi?"

Aku dan Engkau