Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Apa Inti "Menjadi?"

Penulis: Faqih Bayhaq J. Apa Inti “Menjadi?” Beberapa bulan lalu kakek saya atau orang biasa saya panggil “eyang kakung” telah meninggalkan dunia yang fana dan sementara ini. Sebelum pergi ia sempat mengalami retrograde amnesia sementara beberapa kali. Penyakit itu membuatnya tidak bisa mengingat orang-orang di sekitarnya. Hanya terbengong linglung ketika saya mendekat dan menyalaminya, seolah keheranan dan bertanya-tanya dalam hati “kamu siapa?” Saat itu, saya hanya menatap iba, membayangkan diri saya berada di situ. Apa yang akan saya rasakan? Siksaan batin? Perasaan benci? Karena bahkan tidak mengenal siapa saya ini. Atau justru ketenangan? Karena bahkan tidak mengerti apa itu arti hidup dan mati. Di situ pula saya bertanya-tanya.  Bagaimana kita tahu perasaan iri, benci, kesal, marah, kecewa, atau senang itu ada? Apakah itu karena kita percaya seolah itu ada? Atau itu yang sebenarnya ada? Bagaimana kita bisa menjadi orang yang begitu pemarah, tegas, keras kepala, sabar, ra...

Aku dan Engkau

Aku dan Engkau Oleh: Faqih Bayhaq J. Aku dan engkau Bagai bentala dan angkasa Atau paksina dan daksina Yang jauh dan berbeda   Aku yang lahir di laut Jawa Sedangkan engkau lahir di gunung Pasundan Aku yang ditempa bagai besi Sedangkan engkau dipintal bagai sutra Aku yang keras bagai batu Sedangkan engkau lembut bagai bulu Aku pula yang menyendiri dalam diam Sedangkan engkau ramai dalam riuh   Namun,   Aku dan engkau Bagai ruang dalam waktu Atau waktu dalam ruang Yang hilang dan tak bermakna Bila tanpa salah satu di antaranya

Agama yang Mana? Tuhan yang Mana?

Penulis: Faqih Bayhaq J. Agama yang Mana? Tuhan yang Mana? Saya akan membahas mengenai konsep Agama dan Ketuhanan. Esai ini ditulis berdasarkan keresahan saya mengenai kebenaran beragama. Ada begitu banyak agama-agama di dunia ini tapi, mana yang benar? Agama-agama di dunia memiliki konsepsinya sendiri berdasarkan Tuhan, kitab, serta budayanya. Tapi, sebenarnya agama itu apa? Agama adalah ajaran yang mengatur segala tingkah laku manusia, yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah melalui kitab dan keyakinan manusia kepada Tuhan. Bukankah begitu? Tapi, Tuhan siapa? Setiap agama memiliki Tuhan serta kitab berbeda yang mengatur tindakan manusia. Tuhan dalam agama Islam adalah Allah. Agama Kristen memiliki konsepsinya sendiri pula. Bagi agama Kristen, Tuhan adalah satu dan dibagi berdasarkan tiga pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh. Bagi Islam Tuhan hanya Allah. Dalam Yahudi di sebut YHVH (dibaca Yahweh). Namun, kenapa di dunia ini memiliki banyak agama dengan konsepsi yang berbeda...

Kepura-puraan

Penulis: Faqih Bayhaq J. Kepura-puraan Berharap orang lain jujur seperti yang kita harapkan? Atau, berharap orang lain menjauh karena kecewa dengan kebohongan? Serius? It's not as simple as that.   Setiap orang perlu melindungi diri. Selfish? No. Itu wajar. Sebagian orang bahkan ada yang tidak atau belum bisa jujur dengan dirinya sendiri. Walau, sebagian orang ada yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadi.   Tapi, perlu diingat bahwa prinsip etika hidup memisahkan benar dan salah berdasarkan manfaat dan kerugian untuk diri sendiri dan orang lain. Artinya, ga jadi masalah seberapa egois dia selama tidak merugikan orang lain.   Oke. Mudahnya gini. Kamu pasti pernah berbohong. Mengambil kesempatan atau menyembunyikan sesuatu. Entah karena terpaksa atau pun terencana. Bukan cuma kata-kata. Semua hal yang mungkin ga terpikir. Make up. Pernah pake? Kita merasa lebih percaya diri ya? Tapi, bukannya itu suatu bentuk kebohongan? Menyembunyikan bentuk fisik sebena...

Tanya

Tanya Oleh: Faqih Bayhaq J.   Sering kali aku takut bertanya Tentang seberapa tinggi mimpiku pada angkasa Tentang seberapa berguna sebutir debu ini bagi dunia Tentang besarnya kehidupanku dalam buana raya Karena aku tahu betul mengapa Saat aku mendapatkannya Rasa sombong menjadikanku budak bukan raja  

Batasan Alam Pikiran

Batasan Alam Pikiran Oleh: Faqih Bayhaq J.   Raga ini bergidik ngeri karena alasan Membayang alur garis kehidupan Membiar waktu tetap berjalan Melihat semua berlalu perlahan   Manusia terus berkembang Walau pikiran selalu terkekang M eningkat pula kesadaran Namun tak menembus batasan insan   Jadi ha us pengetahuan Tapi mental tak berperasaan Kita dijajah oleh jagat sempit pikiran Yang menari-nari penuh kegirangan

Ajal di Depan Mata

Ajal di Depan Mata Oleh: Faqih Bayhaq J.   Tiga empat langkah kaki kupetakkan Hati-hati dengan ranjau yang membinasakan Rancu memang k arena ku tak tahu pasti adalah aman Hijab menutup akal menghalang alam pikiran   Bimbang merasuk batin dan perasaan Sebagian pikir adalah pesan Sebagian pikir menjadi kesan K e san merasuk perasaan berisi sanjungan L ain pesan merasuk b atin b erisi kematian   Ku lihat mereka saling melontar canda Dengan satu sebagai sasarannya Yang ku lihat hanyalah kopong hampa Takutlah aku menjadi salah diantaranya   Dari jauh kutoreh petuah: Jikalau bisa kau tertawakan dunia Haruslah Kau lihat besarnya alam raya Jikalau masih dapat bergelak tawa Tunggulah ajal di depan mata   x

Seni Komunikasi Hilang Ditelan Pandemi

Penulis: Faqih Bayhaq J. Seni Komunikasi Hilang Ditelan Pandemi Makna Komunikasi dan Bentuk Adaptasinya Saat ini, kita disibukkan dengan aktivitas di dalam rumah. Di awal masuknya covid-19 ke Indonesia bulan Maret lalu, pemerintah sibuk memberikan himbauan pada masyarakat. Banyak poster yang berseliweran dengan kalimat “ tetap jaga jarak, minimal satu meter ” hingga salah satu kata yang paling populer adalah “ social distancing ” untuk mencegah penularan antara orang satu ke orang yang lain. Media juga sibuk mengangkat berita jumlah orang yang terinfeksi, sembuh, dan meninggal. Salah-salah menyikapi, berita yang awalnya disuguhkan dan dimanfaatkan sebagai sumber informasi malah menjadi ironi bagi masyarakat sendiri. Banyak yang merasa parno untuk melakukan interaksi dan komunikasi langsung. Akhirnya, banyak strategi dipikirkan tokoh masyarakat dan para ahli. Kata “ social distancing ” berubah menjadi “ physical distancing ” di mana kita hanya menjaga jarak fisik bukan perasaan dan nur...