Apa Inti "Menjadi?"

Penulis: Faqih Bayhaq J.

Apa Inti “Menjadi?”

Beberapa bulan lalu kakek saya atau orang biasa saya panggil “eyang kakung” telah meninggalkan dunia yang fana dan sementara ini. Sebelum pergi ia sempat mengalami retrograde amnesia sementara beberapa kali. Penyakit itu membuatnya tidak bisa mengingat orang-orang di sekitarnya. Hanya terbengong linglung ketika saya mendekat dan menyalaminya, seolah keheranan dan bertanya-tanya dalam hati “kamu siapa?” Saat itu, saya hanya menatap iba, membayangkan diri saya berada di situ. Apa yang akan saya rasakan? Siksaan batin? Perasaan benci? Karena bahkan tidak mengenal siapa saya ini. Atau justru ketenangan? Karena bahkan tidak mengerti apa itu arti hidup dan mati.

Di situ pula saya bertanya-tanya. Bagaimana kita tahu perasaan iri, benci, kesal, marah, kecewa, atau senang itu ada? Apakah itu karena kita percaya seolah itu ada? Atau itu yang sebenarnya ada? Bagaimana kita bisa menjadi orang yang begitu pemarah, tegas, keras kepala, sabar, ramah, penurut, dan berbagai sifat lainnya? Apakah itu bawaan sejak lahir? Keturunan? Atau melalui proses pembentukan jati diri melalui pengalaman dan interaksi dengan orang lain? Bagaimana jika dari awal kita tidak pernah tahu, mengalami, dan percaya?

Manusia itu sama tapi juga berbeda, antara satu dengan yang lain, antara dirinya dengan dirinya yang lain. Bagaimana bisa kita menyatakan perbedaan tersebut? Apakah tidak ada yang benar-benar sama? Apa yang melatarbelakangi seseorang untuk berbeda dan merasa sama? Saya melihat perbedaan bisa berdasar pada budaya, agama, keluarga, ideologi, seseorang, atau bahkan sesuatu, entah itu pengalaman, emosi, tekanan, waktu, bakat, atau pun privilage (hak istimewa). Sedangkan, persamaan dilatarbelakangi sebuah irisan, tidak secara simultan tapi parsial pada aspek-aspek tertentu.

Hal-hal yang melatarbelakangi seseorang tersebut diadaptasi dari pengetahuan dan pengalamannya. Selama masih hidup manusia tumbuh dan berkembang sejalan dengan waktu. Waktu yang berlalu menjadi sebuah momentum yang akan dikenang dalam memori atau otak manusia menjadi sebuah ingatan. Momentum yang diingat, diyakini, dan dipercaya direkonstruksi sebagai jati diri menjadi sebuah acuan dan pola berpikir. Namun, jika sebuah ingatan yang membentuk pola pikirnya dihapus, apa yang akan terjadi? Itu akan memengaruhi jati diri yang dimilikinya.

Misalnya, ada satu kasus di mana terjadi sebuah insiden yang membuat dirinya hilang ingatan, atau seseorang yang lambat laun karena beberapa kondisi--seperti seseorang yang telah lanjut usia--potongan ingatannya perlahan memudar. Mereka akan kehilangan apa yang telah mengikat dan membentuk mereka dalam ingatan, terkait pengetahuan dan pengalaman, serta keyakinan dan prinsip yang telah dikonstruksi sebelumnya.

Hal itu pula dapat memengaruhi setiap keputusan yang diambil. Ada perbedaan pengambilan keputusan antara seseorang yang belum dan/atau telah mengalami sesuatu. Misalnya, seseorang yang mendapatkan nasib buruk ingin pergi ke masa lalu untuk memperingatkan dirinya bahwa ia akan mengalami nasib buruk karena melakukan kesalahan, ia di masa lalu kemungkinan tidak akan percaya karena waktu belum memberitahunya. Ia akan tetap memutuskan untuk melakukannya karena berpikir semua terlihat baik-baik saja saat itu. Sama halnya, kita tidak akan merasakan penyesalan apa pun saat kita membenci sesuatu. Tapi, saat kebencian telah merusak atau merenggut sesuatu, kita baru menyesalinya. Memohon kesempatan dan berjanji tidak akan mengulanginya. Di situ, dari pengalaman kita belajar dan menciptakan pola pikir dan kesadaran baru. 

Ada beberapa hal yang tidak akan hilang dari jati diri, yaitu hati dan nurani yang mengenali hakikat menjadi. Hakikat seorang hamba, yang membuat kita semua sama akan makna kebenaran nisbi-hakiki keindahan persamaan dan perbedaan. Selain itu, ingatan yang dikonstruksi oleh raga hanya terjadi pada raga. Berbeda dengan entitas jiwa, ia memiliki kebenaran serta keberadaannya sendiri.

Komentar

Tulisan Populer

Berpikir Negatif itu Perlu?

Aku dan Engkau