Benar Salah itu Apa?

Penulis: Faqih Bayhaq J.

Benar Salah itu Apa?

Saya sempat memikirkan ini sangat keras. Kadang saya susah buat istirahat, memejamkan mata dan tertidur lelap. Gelisah terus-terusan, karena ga tau apa yang saya lakuin selama ini udah bener atau belum. Beberapa literatur dan penelitian yang saya baca juga menyebutkan kita punya yang namanya "empathy" atau "feeling" atau "pain matrix". Tapi tetep aja itu ngga berlaku universal.

Indra, logika, pengetahuan, dan perasaan bukanlah kebenaran. Itu cuma alat untuk melihat kebenaran yang dipertimbangkan melalui proses kesepakatan dari dalam maupun luar pribadi. Artinya ada keterbatasan dalam menentukan kebenaran. Ketika kebenaran diucapkan dengan keragu-raguan akan menjadi sebuah kesalahan. Sebaliknya, mengucapkan kebohongan dengan keyakinan akan menjadikannya kebenaran. Begitu juga sains. Pendekatan yang menentukan standarisasi kebenaran. Teori mana yang benar-benar benar? Begitu juga aturan. Yang menjadi dewa bagi orang-orang yang memujanya. Merasa diri paling benar karena taat peraturan. Padahal adanya peraturan berarti juga pengecualian.

Mengucapkan kebenaran dengan keyakinan menurut sudut pandang individual merupakan kesalahan. Kebenaran menurut siapa? Mengucapkannya bukanlah benar sebenarnya. Karena dibalik layar adalah yang benar sebenarnya.  "Membunuh itu salah". Serius? Gimana kalo lingkungan kamu bilang kalo itu hal yang benar? Karena berbagai alasan. Misalnya, karena sebnernya kita terikat jasad dan dipenjara di sebuah ruang yang dinamai "dunia" maka menolong orang lain mengakhiri hidupnya itu suatu hal yang wajar. Iblis salah. Menurut siapa? Padahal hasrat dan nafsu yang memperbudak manusia. Iblis jadi serba salah. Iblis yang selalu jadi barang adu domba. Bukan membela iblis. Tapi kebenaran tidak ditentukan dari benarnya indra, logika, pengetahuan, dan perasaan.

Contoh yang lebih realistis: Bagi sebagian orang "LGBT" merupakan hal yang benar dan dibolehkan karena hal yang lebih individual dan tidak merugikan orang lain. Tapi sebagian orang menganggap itu hal yang salah karena telah menyalahi kodrat dan agama.

Di sini batas antara benar dan salah ga terlihat karena itu menjadi sebuah perspektif. Benar dan salah menjadi subjektif. Mana batasan yang universal antara benar dan salah? Benar salah ga lagi jadi universal. Bahkan, kalo benar salah dibatasi oleh "moral value" dan "emphaty" bukannya hal di atas juga bagian dari itu? from the other side, of course.

Cuma satu jawaban yang bisa saya temuin, yaitu "niat/alasan/tujuan" yang membedakan kita "benar" atau "salah." Seringkali kita merasa serba tahu akan apa yang benar. Seringkali kita menutup tahu untuk sebuah kebenaran. Seringkali pura-pura untuk tahu dan mencari pembenaran. Sampai sadar sebenarnya kita tidak tahu benar. Seringkali kita menjadikannya salah karena sebuah kesalahan, padahal yang salah adalah perbuatannya. Niat bisa jadi benar. Pikiran bisa jadi benar. Perasaan pun bisa jadi benar. Bahkan salah menjadikannya pendosa jahanam di antara keturunan Adam. Tapi, bagaimana agar benar-benar benar dan tahu?

Dan akhirnya saya nemu jawabannya. Jawaban mutlak dan hal paling mendasar dari paradigma benar dan salah. Bukan jawaban relatif-subjektif. Juga bukan jawaban kompleks-analitik. Sederhana dan mudah dipahami. It's a "benefit" and "harm". Right is when we benefit ourselves and/or others. Wrong is when we harm ourselves and/or others. Kedua hal itu juga menjadi dasar prinsip dalam bioethic. Etika hidup merupakan bagian etika. Etika adalah nilai. Dengan kata lain nilai juga mencakup baik dan buruk, benar dan salah.



Komentar

Tulisan Populer

Berpikir Negatif itu Perlu?

Apa Inti "Menjadi?"

Aku dan Engkau