Postingan

Realitas Waktu

Penulis: Faqih Bayhaq J.   Realitas Waktu Waktu adalah benda 4 dimensi. Waktu terasa pasti jika dilihat oleh benda 3 dimensi. Waktu akan terus maju, tidak bisa mengulang atau kembali ke masa lalu. Karena hukum 3 dimensi membatasi waktu untuk tetap pada aturannya. Waktu bisa tidak terasa pasti atau disebut relatif jika kita menambah variabelnya atau melihatnya dalam realitas 4 dimensi. Kita bisa ke masa lalu, masa kini, atau masa depan. Namun, hukum dan aturannya akan sama sekali berbeda dengan realitas 3 dimensi. Akan terdapat perbedaan dalam hukum kausalitas yang terjadi. Hukum itu tidak akan sama seperti kita mencegah orang di masa lalu untuk melakukan kejahatan di masa depan. Ada hal yang memengaruhi hukum relativitas pada realitas 3 dimensi, yaitu gravitasi. Semakin tinggi gravitasi, semakin cepat pula waktu berjalan. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil tingkat gravitasi, semakin lambat pula hitungan waktu. Kecepatan suatu benda juga memengaruhinya. Kecepatan tercepat d...

Kesadaran Ruang dan Waktu

Penulis: Faqih Bayhaq J. Kesadaran Ruang dan Waktu Manusia memiliki alat atau pusat kendali yang memiliki kompleksitas tinggi. Bahkan pada kesadaran yang lebih tinggi mampu menembus hingga lapisan kesadaran semesta. Itu adalah apa yang disebut otak dan alam pikiran. Mereka bisa melakukan sesuatu hingga di luar batas pengetahuan dan rasionalitas. Namun, manusia membutuhkan proses berpikir hingga mampu memiliki kesadaran pada tingkat yang lebih tinggi. Dalam prosesnya, manusia membutuhkan usaha tinggi pula dalam berpikir dan mendapatkan kebijaksanaan tentang hukum Ketuhanan, hakikat semesta, serta kausalitasnya.   Kesadaran ruang dan waktu bisa lebih besar atau menjadi sangat besar dari dimensi alam semesta. Ruang yang kita kira ruang tak terbatas memiliki keterbatasannya. Waktu memiliki tingkat keterbatasan yang berbeda atau lebih rendah. Dalam hubungan kausalitas, ruang melingkupi waktu agar benda tersebut dapat ada dalam dimensinya. Dimensi yang berbeda berada pada suatu s...

Melihat dalam Buta

Melihat dalam Buta Oleh: Faqih Bayhaq J.   Aku bergelut dengan badai yang berkecamuk Pada tiap malam dalam mimpi yang kelam Terlelap di bawah batas kesadaran kemaruk Pun terombang-ambing di perut arus laut dalam   Pikir tak nampak di permukaan Perilaku pun tak terbayang bila sekadar di perbatasan Kata tak sampai dalam kamus pemaknaan Indra pun hanya sanggup pada titik kebutaan   Tak kuasa rasa pada tingkat memahami Karena pikir dan nurani terhalang kabut kelabu Tak kuasa raga pada tingkat mengalami Karena perilaku hanya diam membatu

Aku Ada dan Tiada

Aku Ada dan Tiada Oleh: Faqih Bayhaq J.   Di kala muda sederhana tertawa Di kala tua hidup bukanlah apa Di kala mimpi lebih terasa nyata Di kala ini terjebak antara rindu dan hampa   "Aku berpikir, maka aku ada" Ketika ada dia hanyalah ada Ketika tiada melesap materi jiwa dan raga Jagat raya bukan sekadar eksistensi semata   Dengan kata Kupersilakan pikir meraih ada Karena kata Ku terlelap dalam harmoni romansa Ku terlelap dalam sunyi dan tiada

Bagaimana Aku Memandang

Bagaimana Aku Memandang Oleh: Faqih Bayhaq J. Dua cara memandang dunia Empirisis melihatnya dengan indra Selalu meragu pada akal manusia Mengira bahwa pengalaman adalah nyata Rasionalis sebaliknya Semua jawab pada akal semata Mengira hanya logika ialah kuncinya   Kau lihat Tuhan sebagai insan Padahal indraku dan akalmu tak punya peran Tak ada hak dari makhluk ciptaan Melihat Tuhan dari pengalaman dan pikiran   Terbit sintesa Sebagai jalan tengah bagi semua Ruang dan waktu tampak berbeda Jika engkau melihatnya dengan lain mata Jeruk terbayang manis bagimu Lain bayang denganku Namun bila ada jawaban pertanyaanmu Tuhan itu ada, setidaknya bagiku